slideshare

~ collection of 1 feed Show feeds

C O M O S E H A C E U N F I L O S O F O

C-O-M-O-S-E-H-A-C-E-U-...

teoria de las inteligencias mulpiples de howard gardener

January 31, 2010

from: Recently-Uploaded-Slideshows

Perjalanan Yang Belum Selesai (7)

Perjalanan-Yang-Belum-...

Perjalanan yang belum selesai (7)
Pindah Pos sekaligus di Departeman Luar Negeri, Dalam Negeri dan Petambangan dan Energi. Pos di Depdagri bisa keliling Indonesia, pos di ESDM bisa keliling dunia. Batal umroh gratis, karena kekurangan dana membeli tiket, padahal sudah ‘’disangui’’ Direktur PT Tambang Timah Kuntoro Mangkusubroto dan Direktur Keuangan Erry Riyana Hardjapamekas. Aburizal Bakrie dan Arifin Panigoro, salah satu pengusaha ‘’pribumi’’ yang selalu dibawa Menteri Ginandjar Kartasasmita kalau dia melakukan kunjungan kerja ke lokasi tambang. Ketemu ‘’Bob Hasan’’ di Wina, Austria.
Oleh : Muhammad Jusuf*
Setelah sekitar enam bulan mendapat pos peliputan di Pengadilan dan wilayah kota Jakarta Timur, saya mendapat tugas meliput di Departemen Luar Negeri, Dalam Negeri, merangkap pos di Departemen Pertambangan dan Energi. Ketika itu Menteri Dalam Negerinya Soepardjo Roestam, Menteri Luar Negerinya Mochtar Kusumaatmadja, dan Menteri Pertambangan dan Energi Prof.Dr.Subroto.
Untuknya Gedung dan Press Room ketiga Departemen itu tidak jauh dari Kantor LKBN Antara di Wisma Antara, Jalan Merdeka Selatan No.17. Di samping Wisma Antara, kantor Departemen Pertambangan dan Energi, yang kini berganti nama menjadi Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), sehingga kalau ada acara dan pantauan pos, tinggal jalan kaki saya ke sebelah.
Pos di ESDM memang ketika itu cukup penting berita-beritanya, apalagi Indonesia ketika itu masih merupakan anggota Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC), dan sebagian besar, bahkan bisa mencapai 70% devisa Negara berasal dari ekspor Minyak dan Gas Bumi (Migas). Tidak heran, ketika itu Prof.Dr.Subroto kerap menjadi incaran dan kejaran wartawan, bukan saja wartawan local, tetapi juga banyak wartawan asing, seperti wartawan Kantor Berita Reuters yang punya pos tetap di ESDM Muchlis Ali sampai kini. Markus Duan Allo sendiri, wartawan KOMPAS lama mengepos di ESDM, bahkan dia sendiri, termasuk saya sebagai Reporter Antara, kerap dikirim kantornya meliput berbagai konferensi mengenai Energi di luar negeri, termasuk siding-sidang OPEC, baik di markas besar OPEC di Wina, Austria, dan Negara lain, termasuk di Bali, ketika Indonesia menjadi tuan rumah KTT OPEC.
Sedangkan Mochtar Kusumaatmadja sendiri sebagai Menteri Luar Negeri selalu mengadakan pertemuan rutin di kantornya dengan para wartawan. Biasanya Jumpa pers rutin itu dilakukan di Deplu setiap hari Jumat, usai Shalat Jumat. Kadang, hari lain, kalau Bapak Mochtar Kusumaatmadja ada acara lain. Namun, kami wartawan yang ‘’mengepos’’ di Departemen Luar Negeri biasanya selalu di ‘’atur’’ Humasnya, ke Bandara, bila Mochar Kusumaatmadja baru tiba dari suatu acara di luar negeri, sehingga dia melakukan Jumpa pers di Vip room Bandara Soekarno-Hatta, dulu namanya Bandara Cengkareng.
Diantara keiga Departemen ini, yang cukup sibuk adalah Departemen Dalam Negeri (Depdagri). Banyak sekali acara dan kunjungan Soepardjo Roestam ke daerah-daerah yang harus kita ikuti. Berbeda dengan mereka yang mengepos di Departemen Luar Negeri , biasanya Menteri Dalam Negeri dalam kunjungannya ke berbagai daerah selalu membawa wartawan. Juga kalau ada acara di salah satu Dirjennya. Satu hal yang ketika itu berita-berita Departemen Dalam Negeri cukup produktif adalah, ketika itu Kepala Biro Humas Departemen Dalam Negeri Faisal Tamin, juga bertindak sebagai Jurubicara Departemen, sehingga banyak sekali berita-berita seputar Politik Dalam negeri yang terlontar dari mulut ‘’Bapak’’ Faisal Tamin.
Boleh di kata, setiap kunjungan Menteri Dalam Negeri, salah satu Dirjen, bahkan kadang ada undangan Gubernur di daerah kami meliput langsung ke daerah, apalagi pada masa itu, Kantor Berita Antara masih menjadi andalan media cetak dan radio di dalam negeri. Tidak heran, bila saya pernah meliput di hamper seluruh propinsi di Indonesia, mulai dari Banda Aceh sampai Jayapura di Papua, bahkan pernah ikut kunjungan Soepardjo Rustam meninjau propinsi ‘’kita’’ ketika itu ke Dilli dan kota-kota di sekitarnya di Timor Timur
Setiap Pemilu pun para wartawan di Departemen Dalam negeri di bagi dalam beberapa zona, untuk pemantauan. Saya ketika itu, ikut memantau pemilu tahun 1987 ke kawasan Tapal Kuda di Jawa Timur yang ketika itu cukup surprise, karena Partai Persatuan Pembangunan cukup banyak pendukungnya di kawasan ini, walau secara nasional Golkar unggul mayoritas, meninggalkan PPP dan Partai Demokrasi Indonesia.
Berbeda dengan ‘’ngepos’’ di Departemen Dalam Negeri dan Departemen ESDM, ‘’Ngepos di Departemen Luar Negeri, walaupun Menterinya kerap ke luar negeri, namun wartawannya ‘’sama sekali’’ tidak pernah ‘’diundang’’ meliput ke luar negeri. Cukup di Press Room bandara, atau Press Room Departemen Luar Negeri. Mungkin satu-satunya yang pernah, para wartawan di undang keluar negeri adalah ketika ‘’Gedung KBRI” yang baru di Singapura di resmikan. Itu pun yang berangkat adalah Saudara rekan saya satu angkatan di Susdape IV, Dadut Priambodo, yang ketika pertama kali menjadi reporter Antara ditugaskan ‘’mengepos’’ di Deplu. Saya ketika itu ‘’ngepos’’ di Jakarta Timur.
Saya beruntung ditugaskan Kepala Biro Koordinator Reporter LKBN Antara ketika itu Alwi Shahab yang menggantikan Bapak Soegianto, sehingga saya juga di poskan di Departemen ESDM, karena dari pos inilah saya berpengalaman meliput sampai ke manca Negara, baik Konperensi OPEC di Wina, Austria, sampai konferensi mengenai Energi di Spanyol, Singapura, Jepang dan beberapa Negara lain. Memang, ngepos di Departemen Luar Negeri, bukan berarti saya tidak pernah ditugaskan meliput masalah-masalah luar negeri di luar negeri. Seperti sekitar tahun 1986’an, ketika Pemerintah Oman mengundang para wartawan dari segala penjuru dunia, termasuk dua wartawan di Indonesia, saya termasuk yang ditugaskan Antara meliput Konferensi Dewan Kerjasama Teluk (GCC) yang dilakukan di Ibukota Oman, Muscat.
Sebenarnya, pemerintah Oman ketika itu mengundang selain wartawan Antara, juga wartawan senior Anie Berthasimamora dari Sinar Harapan. Namun, ketika itu Anie Berthasimamora tengah berhalangan. Mungkin, dia tengah persiapan menghadapi perayaan Natal, karena ketika itu jadwal konferensi GCC mendekati hari-hari perayaan Natal.
Ada salah satu hal menarik ketika kami diundang Oman ini. Oman adalah salah satu Negara di Timur Tengah yang cukup kaya, dan merupakan salah satu Negara di Timur Tengah yang pernah saya singgahi untuk meliput. Berbeda dengan kota Dubai, saya hanya transit saja ke kota ini, sebelum melanjutkan perjalanan ke Eropa misalnya (ke Belanda atau Negara lain seperti Jerman, Austria dan Hongaria).
Di dalam mengundang para wartawan ini, pemerintah Oman sadar betul akan pentingnya Public Relations, sehingga untuk Negara-negara di Asia mereka menggunakan jasa konsultan dari Singapura untuk meliput jalannya siding. Kami para wartawan tentu saja dimanjakan pemerintah Oman dalam peliputan, kami disediakan hotel mewah, seperti Al-Bhustan hotel, kendaraan ‘’Mercedes Benz’’ untuk putar-putar sekitar kota Oman, selain bis untuk mengunjungi beberapa tempat wisata di Oman.
Namun, cita-cita saya, ketika sambil mengunjungi Oman adalah, saya tidak jadi Umroh Gratis ke Mekkah. Padahal, sebelum berangkat ke Oman, saya sudah menyiapkan ‘’baju ihram’’ putih, peninggalan almarhum mertua Mayor Dimyati saya yang meninggal ketika naik haji tahun 1982 lalu. Lagi pula, saya pun mendapat ‘’visa gratis’’ dari Kedubes Arab Saudi di Jakarta. Belum lagi, Kepala Biro LKBN Antara di Jeddah, ketika itu, ‘’menawarkan’’ services ‘’gratis’’ dari Jeddah ke Mekkah pulang pergi. Saya ketika itu memang ‘’belum panggilan’’, karena ‘’uang saya’’ ternyata kurang US$ 100 dolar untuk tambahan membeli tiket dari Muscat – Jeddah bolak-balik, karena Tiket dari Muscat – Bangkok – Jakarta sudah disediakan pemerintah Oman.
Padahal, sebelum berangkat ke Oman, saya sudah lapor ke Direktur Utama PT Tambang Timah Kuntoro Mangkusubroto dan Direktur Keuangannya Erry Riyana Hardjapamekas, kalau saya, selain meliput ke Oman, juga akan Umroh. Karena niat baik saya itu, padahal keduanya sudah ‘’memberi sangu’’ Rp 500.000 rupiah. Namun, saya salah perhitungan, uang SPJ yang telah diberikan LKBN Antara dan ‘’bantuan Umroh’’ dari Bapak Kuntoro dan Bapak Erry Riyana itu sudah telanjur ‘’kepakai’’ membeli oleh-oleh di pasar tradisional di Muscat untuk membeli topi haji, kurma dan lain-lain. Padahal, harga-harga oleh-oleh di Muscat sangat mahal, apalagi nilai mata uang rial Oman ketika itu dua kali lipat dari dolar AS, sehingga uang dikeluarkan ‘’tanpa terasa’’ nyaris habis, sehingga uang untuk tambahan tiket ke Jeddah kurang. Kata orang sih, saya belum rezeki ‘’dipanggil’’ untuk Umroh. Mungkin juga hati saya belum ‘’terlalu’’ bersih, karena di hati kecil, sebelum kembali ke Jakarta, dan singgah di Bangkok, banyak teman wartawan di Jakarta agar saya mencari pengalaman dengan menonton berbagai pertunjukan yang ‘’berbau porno’’ selama di Bangkok.
Ada hal yang menarik ketika saya dalam perjalanan dari Muscat ke Jakarta via Bangkok. Dalam perjalanan saya pulang saya satu pesawat dengan sebagian besar warga Negara Oman yang tengah ingin tamasya ke Bangkok. ‘’Anda ingin kemana,’’ Tanya saya ke salah satu penumpang, memakai surban dan pakaian khas ‘’Arab’’. ‘’Saya mau pelesiran ke Bangkok,’’ kata penumpang ini. “Kenapa tidak singgah juga ke Jakarta setelah dari Bangkok,’’ Tanya saya, penasaran. ‘’Di Indonesia, dan di Jakarta ngak banyak ceweknya,’’ kata salah seorang penumpang tadi. Maksudnya, tidak banyak ‘’wanita penghibur’’. Karena, saya takut ‘’berdosa’’ kasih tahu kalau di kota-kota di Indonesia juga banyak ‘’wanita penghibur’’, saya hanya mengangguk saja ketika dia menjawab demikian.
Ketika kami turun di Bangkok, ternyata selama di Ibukota Thailand ini, kami satu hotel, di tengah kota Bangkok. Ketika tiba, saya pun lantas Chek in, dan sore harinya jalan-jalan mengelilingi kota di Bangkok, termasuk beberapa tempat ‘’penari berbau porno’’ yang menjadi daya tarik umumnya para pelancong dari mancanegara mengapa mereka memilih Thailand sebagai tempat persinggahan, selain mereka memiliki banyak ‘’wanita penghibur’’.
Benar saja, ketika sekitar pukul 22.00 malam saya kembali ke Hotel, beberapa rekan warga Oman yang satu pesawat tadi, kembali ke kamar hotel mereka sudah ‘’menggandeng’’ satu-satu para wanita ‘’penghibur’’ local. Mereka sudah tidak lagi menggunakan pakaian khas Arab, namun umumnya mereka sudah mengenakan celana ‘’Jeans’’. Konon, diantara para turis dari Arab itu, bukan saja bujangan, tetapi banyak diantara mereka bahkan sudah berkeluarga. ‘’Mereka’’ rupanya sengaja tidak membawa para isteri dan anak mereka ke Bangkok, agar ‘’kenakalan’’ mereka tidak ketahuan para isteri mereka.
Kunjungi Tembagapura
Enam bulan menjelang masa sebagai Menteri Pertambangan dan Energi, Prof.Dr.Subroto yang selama ini banyak menghadiri siding OPEC dn konferensi energi di luar negeri, sehingga belum sempat mengunjungi beberapa lokasi pertambangan di dalam negeri, sehingga dia memutuskan untuk melakukan kunjungan kerja mengunjungi beberapa lokasi tambang, antara lain mengunjungi tambang tembaga dan emas milik Freeport McMorant PT Freeport Indonesia di Tembagapura, di Papua, kemudian mengunjungi tambang nikel milik PT Inco di Pomalaa di Sulawesi Selatan, melihat tambang emas milik mantan anggota DPR Yusuk Merukh PT Lusang Mining di Lebong Tandai di Bengkulu, dank e Tanjung Enim melihat lokasi tambang batubara yang dieksplorasi dan dieksploitasi PT Tambang Batubaa Bukit ‘Asam (PTBA).
Ketika kami mengunjungi PT Lusang Mining di Bengkulu, kami dari Jakarta ke Palembang memang menggunakan pesawat. Namun dari Palembang ke Lebong Tandai, di Bengkulu, kami menggunakan kereta api, jadi kereta pengangkutan batubara yang gerbongnya diganti dengan ‘’gerbong’’ penumpang.
Satu tahun berikutnya, Presiden Soeharto ketika mengumumkan komposisi anggota kabinetnya, Menteri Subroto yang sebelumnya beberapa kali menjadi Menteri di pos lain oleh Presiden Soeharto, kali ini, Soeharto menunjuk Prof.Dr.Ginandjar Kartasasmita menjadi Menteri Pertambangan dan Energi menggantikan Prof.Dr.Subroto. Subroto beberapa saat kemudian menduduki jabatan sebagai President OPEC.
Departeman Pertambangan dan Energi yang dipegang Bapak Ginandjar, yang di dalam cabinet sebelumnya menjabat sebagai Menteri Muda Pemberdayaan Penggunaan Produksi Dalam Negeri itu terasa ‘’semakin hidup’’. Selain dia sendiri yang kerap ‘’banyak’’ bicara’’ kepada pers, baik soal-soal minyak dan gas dan OPEC, juga sekitar masalah-masalah pertambangan lainnya. Para Direktur Utama Badan Usaha Milik Negara, yang ketika itu masih di bawah payung Departemen Pertambangan dan Energi, bukan Kementrian BUMN seperti sekarang, juga mengikuti gaya menterinya, yang sangat terbuka kepada para wartawan.
Direktur Utama PT Tambang Timah ketika awal Ginandjar menjadi Menteri dipegang Kuntoro Mangkusubroto menggantikan Sudjatmiko. Dua tahun kemudian, Kuntoro pindah menjadi Direktur PT Tambang Batubara Bukut Asam. Direktur Utama Perusahaan Listrik Negara dipegang Ermansyah Yamin, sedangkan Direktur Utama Pertamina dipegang Abdurahman Ramly, setelah satu tahun kemudian digantikan oleh Bapak Faisal Abda’oe. Konon, Faisal Abda’oe menjadi Dirut Pertamina, karena ‘’titipan’’ President Soeharto, karena ada cerita, Faisal Abda’oe di dalam zaman perjuangan melawan penjajah, ketika di Yogyakarta, adalah ‘’kurir’’ Soeharto.
Di dalam masa Bapak Ginandjar Kartasasmita inilah ‘’saya naik daun’’. Karena, Bapak Handjojo, Pimpinan Umum LKBN Antara, juga teman dekat Bapak Ginandjar Kartasasmita, sehingga bos saya, Bapak Alwi Shahab dan Bapak Sugiarto tetap memutuskan saya tetap pada pos saya semula, dan diminta ‘’menempel’’ terus Bapak Ginandjar. Ini juga diteruskan pada masa kepemimpinan Bapak Parni Hadi, Kepala Biro Koordinator Reportase menggantikan Bapak Soegiarto dan Bapak Alwi Shahab ketika itu.
Tidak heran, bila ada penugasan, baik atas undangan BUMN di Lingkungan Departemen Pertambangan dan Energi, atau penugasan dari kantor LKBN Antara meliput OPEC dan konferensi energy di forum Internasional, dimana Bapak Ginandjar Kartasasmita hadir, saya selalu ditugasi untuk meliputnya.
Ada salah satu semangat yang dimiliki Bapak Ginandjar Kartasmita ketika mempromosikan produksi dalam negeri , ketika diangkat menjadi Menteri ESDM, dia selalu mengikut sertakan beberapa pengusaha ‘’pribumi’’ seperti Aburizal Bakrie, Arifin Panigoro dan Bapak Fadel Muhammad. Kini ketiganya sudah menjadi ‘’orang besar’’. Aburizal Bakrie, yang kini menjabat Ketua Umum Golkar sebelumnya Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat. Arifin Panigoro sendiri perusahaan minyaknya Medco Group telah menjadi perusahaan migas swasta terbesar di Indonesia. Fadel Muhammad Sendiri setelah sebelumnya menjabat sebagai Gubernur Gorontalo, kini menjabat sebagai Menteri Kelautan dan Perikanan, menggantikan Freddy Numberi, yang kini menjadi Menteri Perhubungan pada cabinet Presiden Susilo Bambang Yudhoyono periode kedua. Itulah sebabnya, ketika kami mengunjungi PT Freeport di Tembagapura, selain dijemput langsung oleh CEO Freeport McMorant dari Amerika Serikat Mr.Moffet di Halim Perdana Kusuma, Ginandjar dalam kunjungan beberapa kali ke Tembagapura selalu membawa dua pengusaha ‘’pribumi’’ ini.
Ketika kami mengikuti kunjungan Menteri Ginandjar dan diikuti Bapak Aburizal Bakrie dan Arifin Panigoro, kami sempat juga mengunjuhngi lembah Baliem, kawasan desa suku asmat di Papua. Kami pun sempat ‘’melihat’’ salju di atas pegunungan di Jayapura, yang masuk lokasi pertambangan di Tembagapura. Entahlah, apakah salju itu masih ada di Tembagapura, karena tentu saja eksploitasi tembaga dan emas tentu saja sudah semakin meluas, sehingga berdampak pada perubahan lingkungan dan suhu.
Pernah suatu ketika, ketika tengah meliput Konferensi Sidang OPEC di Wina, Austria, ketika saya tengah akan mengirim berita ke kantor pos, saya jalan kaki dari Hotel, maklum ketika itu mengirim berita ke Antara belum menggunakan mesin fax atau email seperti sekarang. Ketika itu kami mengirim berita menggunakan telex. Karena, kalau menggunakan operator mahal bayarannya di Austria, terpaksa saya mengirimnya mengetik sendiri. Namun, ketika, akan pulang kembali ke Hotel dari Kantor Pos di Wina, saya ketemu pengusaha nasional dan mantan Menteri Perdagangan Muhammad Hasan, yang dikenal dipanggil ‘’Bob Hasan’’.
Ketika saya jalan, Bob Hasan yang didampingi Sekjen Persatuan Atletik Indonesia itu tengah menikmati alam kota Wina, termasukGereja Tuanya yang indah. ‘’Hei Bapak Bob Hasan, apa kabar,’’ sapa aku. ‘’Kabar baik, Anda dari mana,’’ Tanya Bob Hasan. ‘’Saya reporter Antara, Muhammad Jusuf,’’ kata saya.
‘’Oh , ya, saya kenal baik bos Anda Bapak Handjojo. Ada acara apa di Wina ini,’’ Tanya Bob Hassan. ‘’Saya lagi meliput sidang OPEC,’’ kata saya. ‘’Bapak Bob Hasan sendiri dari mana dan sedang apa,’’ Tanya saya, penasaran. ‘’Saya tengah berkunjung ke beberapa di Skandinavia untuk mencari pabrik kertas,’’ jawab Bob Hasan. Memang, Bob Hasan, ketika itu, selain dikenal sebagai pengusaha di bidang industry perkayuan, juga dikenal tengah merintis industry kertas, seperti Pulp PT Kiani Kertas di Kalimantan Timur, yang kini dimiliki pengusaha Pak Hashim dan Prabowo Subianto. ‘’Ayo kita ke restaurant terdekat, sambil ngobrol-ngobrol,’’ ajak Bob Hasan. ‘’Ok, kata ku’’. Lalu, setibanya di sebuah restaurant ‘’cina’’, kami lebih dari tiga jam mengobrol panjang lebar dengan Bob Hasan.
Setibanya di Hotel, saya ketemu Wartawan Kompas, yang ditugasi meliput sidang OPEC ketika itu, Saudara Chris Kelana. ‘’Dari mana Suf,’’ kata Chris. ‘’Aku dari kirim berita di Kantor Pos. Eh, tadi aku ketemu Bob Hasan dan ditraktir makan,’’ kataku. ‘’Dimana, aku juga pengen ketemu dia,’’ Tanya Chris Kelana penasaran. ‘’Tadi dia ada di tengah kota, dekat Kantor Pos, saya sih sudah kasih tahu hotel kita Marriot ke Bapak Bob Hasan,’’ kataku.
Benar saja, esoknya ketika Konferensi OPEC dibuka dan dimulai, Bob Hasan sudah masuk dalam jajaran barisan tempat duduk delegasi Indonesia, termasuk Direktur Utama Pertamina Faisal Abdaoe, dan para pejabat dan staf ahli lainnya di lingkungan Departemen Pertambangan dan Energi.
Sepulangnya dari Wina inilah, kemudian Chris Kelana ‘’hengkang’’ ke Televisi Rajawali Citra Televisi Indonesia (RCTI). Rupanya, Chris Kelana baru saja dibajak Peter F Gontha untuk menjadi Pemimpin Redaksi Seputar Indonesia di RCTI.
Salah satu kepuasan saya di dalam meliput sidang-sidang OPEC itu adalah, banyak berita-berita saya yang di ‘’kutip’’ Koran utama di tanah air, seperti Sinar Harapan, Berita Buana, Merdeka, Koran Bahasa Inggris ‘’The Indonesian Times” dan ‘’The Indonesian Observer’’ dan banyak Koran daerah lain. Saya memang bekerja di LKBN Antara mulai tahun 1984 sampai tahun 1989, setelah tahun 1990 saya pindah ke Majalah Mingguan ‘Ekonomi’ Prospek milik pengusaha Soetrisno Bachir, yang kini Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN) sebagai Kepala Biro Jakarta, atau Koodinator Reportase.

• Wartawan Freelance dan Dosen Komunikasi (Jurnalistik) Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Hidayatullah.

January 31, 2010

from: Recently-Uploaded-Slideshows

Melissa Haro-SI Model.pps

Melissa-Haro-SI-Modelpps

...

January 31, 2010

from: Recently-Uploaded-Slideshows

Case Study - Tutors Virtual School

Case-Study-Tutors-Virt...

...

January 31, 2010

from: Recently-Uploaded-Slideshows

Big Gyan Cloud E Learning Top 10 Research Paper

Big-Gyan-Cloud-E-Learn...

...

January 31, 2010

from: Recently-Uploaded-Slideshows

Case Study Addressing Capability Challenges

Case-Study-Addressing-...

...

January 31, 2010

from: Recently-Uploaded-Slideshows

Perjalanan Yang Belum Selesai (8)

Perjalanan-Yang-Belum-...

Perjalanan yang belum selesai (8).
Sambil tugas ‘’menyelam minum air’’ dua kali ‘’nengok’’ adik di San Diego. Godaan dua hostes di Madrid, Minum dua gelas kecil coca-cola bayar US$ 5.000. Kalau ‘’pengen’’ kaya, selain “injak’’ para koruptor, juga terima ‘’amplop’’. Ada juga sogokan ke wartawan berupa ‘’perempuan’’ atau ‘’cewe’’.
Oleh: Muhammad Jusuf *
Saya beruntung, baru beberapa bulan di Majalah PROSPEK sudah mendapat tugas meliput perjalanan perdana perusahaan penerbangan milik Huspuss Group, Sempati Air penerbangan perdana Jakarta – Singapura. Undangan ini sebenarnya ditujukan kepada para pemimpin Redaksi Media massa, itulah sebabnya, di dalam kunjungan itu Djafar Assegaf, ketika itu Pemimpin Redaksi Majalah Warta Ekonomi turut serta.
Saya bilang beruntung, karena, inilah satu-satunya ada penugasan seorang wartawan ke luar negeri di majalah baru milik Soetrisno Bachir, mengingat saya setelah itu, tidak ada lagi, karena Majalah ini keburu tutup. Salah satu kabar, mengapa Majalah ini tutup, adalah Bapak Soetrisno Bachir di dalam menanamkan modalnya di industry media ini adalah atas investasi dan dari ‘’kantong pribadi’’ dan tidak ada hubungannya dengan ‘’Ika Muda Group’’ dimana dia dan saudara-saudaranya duduk sebagai anggota Dewan Komisaris dan Direksi. Padahal investasi di Media adalah investasi ‘’jangka panjang’’ , belum tentu sudah dapat iklan dalam waktu singkat.
Dengan dana yang terbatas Soetrisno Bachir mencoba untuk ekspansi di Media, setelah mendirikan Majalah PROSPEK. Yang sebagian besar awak Redaksi dan Non-Redaksi ‘’dibajak’’ dari Majalah Tempo dan eks Majalah Editor yang juga asalnya juga mantan awak Majalah Tempo itu. Soetrisno Bachir yang diwaliki Muchlis Gumilang, sebagai Direktur Utama pengelola Majalah ‘’membajak’’ mereka dengan ‘’gaji besar’’ dan para redakturnya pun memperoleh ‘’mobil dinas sedan’’. Jadi, tentu saja ini adalah salah satu daya tarik mengapa saya, dan Saudara Dadut Priambodo ‘’hengkang’’ dari LKBN Antara ke Majalah Prospek. Padahal, konon, katanya Saudara Dadut Priambodo ini sudah dipersiapkan Saudara Parni Hadi, Kepala Biro Koordinator Reporter LKBN Antara ketika itu untuk menjadi Kepala Biro LKBN Antara, kalau ngak di Melbourne, Australia atau di New York, Amerika Serikat.
Tapi, itu memang sudah suratan takdir dan jalan rezekinya Dadut. Berkat ‘’pesangon’’ dari PROSPEK, Dadut bisa sekolah S2 jurusan Business Administration, sehingga memperoleh gelar MBA, selain S1 bidang hukum yang dia peroleh sebelumnya dari Universitas Indonesia. Setelah satu tahun di PROSPEK, Dadut Priambodo memang malang melintang bekerja di Kantor Pengacara terkenal seperti Kantor Pengacara Gani Djemat di Jalan Diponegoro, sebelum akhirnya dia memutuskan membuka praktek ‘’kepengacaraan sendiri’’, sampai kini.
Pindah ke Media Indonesia
Kebetulan, ketika Majalah PROSPEK tengah genting-gentingnya, bahkan ada kabar mau tutup segera, karena dana yang ada sudah ‘’habis’’, maka saya melihat iklan di Harian Media Indonesia membuka lowongan untuk posisi ‘’Redaktur Internasional’’ untuk menggantikan Praginanto, mantan wartawan senior Tempo yang pernah mewawancarai secara eksklusif Pemimpin Palestina Yaser Arafat sekitar tahun 1980’an, ketika di Indonesia belum banyak media cetak dan elektronik. Praginanto ini juga sebenarnya adalah orang yang mempersiapkan akan kelahiran Majalah Prospek. Namun, belum sempat terbit, dia digantikan oleh Bachtiar Abdullah, mantan Reporter Tempo.
Katanya sih, konon, dia ‘’dikudeta’’ oleh Bachtiar Abdullah cs. Padahal Praginanto ini adalah bekas sahabat karib salah satu ‘’pendukung Bachtiar Abdullah, Bachrul Alam, mantan wartawan RCTI yang kini jadi salah satu wartawan senior di LKBN Antara, ketika sama-sama kuliah di Universitas Indonesia. Praginanto kemudian, setelah sempat ‘’nemplok’’ di Media Indonesia, lalu ke media Jepang, Harian Nikkei edisi bahasa Inggris. Bachtiar Abdullah pernah bilang, Praginanto terlalu lama mempersiapkan majalah PROSPEK, lebih enam bulan dan belum terbit-terbit. ‘’Saya ngak sabar dengan kondisi ini, sehingga saya dan teman-teman menghadap Soetrisno Bachir,’’ kata Bachtiar Abdullah , mantan Reporter Majalah Tempo yang pernah sama saya mangkal di Departemen Pertambangan dan Energi (ESDM) suatu ketika.
Ketika saya mulai bertugas di Media Indonesia, asisten saya sebagai Asisten Redaktur International adalah Herdi SRS, yang kemudian Herdy digantikan oleh Taufiqulhadi. Saya sendiri diberikan ‘’kursi’’, bekas yang digunakan Praginanto, bersebelahan dengan Saudari Debra Yatim, yang ketika itu menjadi Redaktur Aksen, yang mengisi halaman seputar kisah ‘’perempuan’’. Redaktur Eksekutifnya ketika itu Herul Fathony. Saya sendiri sebelum masuk Media Indonesia diseleksi dan diwawancara Sekretaris Redaksi ketika itu Sides Sudyarto, yang sebelumnya wartawan KOMPAS bersama Herul Fathony.
Setelah dua tahun, saya dipindahkan menjadi Koordinator Reportase, di bawah Andy Noya, yang ketika itu menjabat sebagai Asisten Redaktur Executif, dibawah Herul, sebelum saya kembali ditugaskan menjadi Asisten Redaktur Ekonomi, bersama Marcianus Donny yang jadi Redakturnya. Pada posisi Asisten Redaktur Ekonomi ini, Redaktur Exekutifnya dipegang Saudara Bambang Harymurti, yang setelah Tempo dibreidel, dia bersama beberapa mantan awak Tempo, sempat ‘’ditampung’’ Surya Paloh di Media Indonesia, seperti Happy Sulistiady, Moebanu Mura, dan termasuk Fotografer Rini PWI. Namun, ketika Tempo terbit lagi, sebagian dari mantan awak Tempo ini kembali menerbitkan Majalah berita terkemuka di Indonesia, dengan Bambang Harymurti menjadi Pemimpin Redaksi Majalah Tempo perdana, ketika terbit kembali.
Pernah suatu ketika sebagian besar para redaktur harian Media Indonesia menandatangani petisi memprotes kebijakan Surya Paloh. Hanya satu orang yang ketika itu tidak melaksanakan ‘’tanda tangan’’ yaitu saudara Eddy Ellison. Hasilnya, karena hasil petisi itu tidak digubris, maka sebagian besar para Redaktur ‘’mundur’’ seperti Debra Yatim, Herul Fathony, Bramono, dan para redaktur dan beberapa reporter yang jumlahnya hampir dua puluh orang. Banyak dari mereka pindah ke media lain, walau ada beberapa diantara mereka beberapa tahun kemudian kembali, seperti Herul Fathony. Sedangkan Debra Yatim sendiri sampai kini terus giat menjadi aktivis di LSM yang ‘’memperjuangkan’’ kaum Perempuan. Eddy Ellison sendiri yang tidak menandatangani petisi, diangkat Surya Paloh menjadi Redaktur Eksekutif. Redaktur Eksekutif di Media Indonesia sih de facto seperti layaknya seorang Peimpin Redaksi, hal ini mengingat Pemimpin Redaksi yang ada, Drs Youslisah adalah Pemimpin Redaksi non-aktif. Memang, harian Media Indonesia ini sebelum ‘’dibeli’’ Surya Paloh adalah Media yang didirikan oleh almarhum Drs.Youslisah. Kebetulah Youslisah dan Surya Paloh sama-sama ‘’orang Aceh’’.
Beruntung nengok Adik.
Selama bekerja menjadi Wartawan di Media Indonesia saya cukup beruntung. Karena selama bekerja di sinilah saya bisa dua kali ‘’nengok’’ adik saya Sri Mulyani, yang kebetulan mendapat suami asal Amerika Serikat dan tinggal di San Diego, California, Amerika Serikat.
Pertama , ketika Pertamina mengundang saya , bersama sekitar 60 puluh wartawan yang ‘’ngepos’’ di Pertamina ditugaskan meliput pengapalan gas alam cair dari Indonesia ke Osaka, Jepang. Kita kelompok wartawan meliput di bidang Pertambangan dan Energi, ketika itu Menterinya adalah Prof.Dr.Ginandjar Kartasasmita, dan Direktur Utamanya Faisal Abda’oe dibagi dalam tiga kelompok, jadi ada sekitar 20 orang wartaran media cetak dan elektronik dalam satu kelompok. Satu kelompok ditugaskan ke Korea Selatan. Satu kelompok lainnya ke Taiwan, dan satu kelompok lainnya ke Jepang. Saya sengaja milih ke Osaka, karena di dalam rute perjalanan setelah dari Osaka berangkat ke Tokyo. Nah, kebetulan, saya kata Agen Biro Perjalanan ‘’langganan’’ Pertamina hanya nambah US$ 100 saja kalau menambah rute antara Jakarta – Osaka – Tokyo – Los Angeles – Taipei – Kuala Lumpur – Jakarta. Itu terjadi pada tahun 1992. Gas alam cair atau disebut LNG (Liquefied Natural Gas) berasal dari Kilang Bontang, Kalimantan Timur dan Kilang Lhok Seumawe, Banda Aceh. Adik saya, tentu saja dia bersama suaminya menjemput saya di Bandara Los Angleles, karena perjalanan darat San Diego – Los Angeles paling lama dua jam.
Kesempatan lain menengok adik saya di San Diego, pada tahun 1995, ketika saya meliput seminar energy dan kelistrikan di Madrid Spanyol. Ini sih berkat ‘’kedekatan’’ wartawan RRI Achmad Parembahan. Karena dia dekat dengan Kepala Biro Humas PLN Pak Tombek, ‘’sama-sama asal Manado’’, maka aku diusulkan Achmad Parembahan ke Tombek agar aku diundang juga pada seminar energy dunia di Madrid itu.
Ketika itu, saya bilang ke Agen Biro Perjalanan Perusahaan Listrik Negara, agar rute perjalanan saya berubah rute saja, yang semula Jakarta – Amsterdam – Madrid – Amsterdam – Singapura – Jakarta, dirubah dari Jakarta – Amsterdam – Madrid – New York – Los Angeles – Jakarta. Nah, dari Los Angeles inilah saya dijemput lagi oleh adik saya. Maklum, kalau ngak ‘’nyambi’’ meliput ini mana ada ‘’uang’’, apalagi gaji para wartawan kebanyakan kecil dan hanya cukup untuk biaya hidup bersama keluarga sebulan. Ngak ada sisa untuk ‘’plesiran’’ atau ‘’ditabung’’. Kesempatan untuk nengok adik saya, memang hanya Ayah dan Ibu saya, itupun kerap karena Adik saya mengirim tiket dan biaya lain.
Tentu saja, sebelumnya saya minta visa di Kedubes AS dengan alasan mau meliput pidato Presiden Soeharto di Perserikatan Bangsa-Bangsa di New York. Memang, ketika itu, saya ketemu Reporter Media Indonesia yang sehari-hari mangkal di ‘’Istana’’, saudari Retno Indarti Darmoyo, yang kini bersuamikan wartawan senior dan mantan Pemimpin Redaksi Harian Bisnis Indonesia, Yulius Kerong. Ketika itu Retno ikut rombongan ‘’kunjungan kenegaraan Presiden Soeharto’’. Bahkan, selama saya mampir di New York, saya sempat ‘’numpang’’ nginep di rumah Pak Bakran Asnawi, ketika itu Kepala Biro LKBN Antara di New York. Satu hari setelah ‘’nginep’’ di rumah Bapak Bakran, besoknya saya bergabung ‘’nginep’’ di hotel ‘’para wartawan istana’’ . Diantaranya Pemimpin Redaksi Harian Terbit yang kini juga Ketua Umum Persatuan Wartawan Indonesia saudara Tarman Azzam. Tarman Azzam sendiri saya sudah kenal ketika dia masih menjadi wartawan Bisnis Indonesia.
Di hotel ini saya numpang di ‘’kamar’’ jatahnya ‘’Fardah’’ wartawati senior LKBN Antara. Fardah tidur di kamar, saya di kursi ruang tamu. ‘’Maklum, saya dan dia bukan muhrim. Sehingga saya kalau malam ‘’menahan kencing’’ sampai pagi, karena toiletnya di dalam kamar. Maklum, namanya juga numpang, tau diri, ngak mau ganggu yang lagi tidur di dalam. Lagi pula untuk ‘’mencegah’’ yang ngak-ngak. Katanya, kalau ada satu pria dan satu wanita bukan muhrim ‘’setan’’ bisa masuk ke pikiran dan bisa datang ‘’nafsu’’ syaitan ‘’ selingkuh’’.
Dikerjain Hostes
Rombongan konferensi energy ke Madrid antara lain mantan Direktur Utama PLN ketika itu Ermansyah Yamin, ada juga pengusaha dari Medco Group Hadi Basalamah, dan beberapa orang staf ahli di Departemen Pertambangan dan Energi.
Ada kejadian menarik ketika saya dan Achmad Parembahan seusai meliput konferensi, hotel tempat kami menginap di lantai dasar ada night clubnya. Karena penasaran, saudara Achmad Parembahan, yang ketika itu sudah ‘’Haji’’ mengajak saya singgah, yang walaupun katanya hanya minum coca cola saja. Saya ketika itu peringatkan Saudara Achmad Parembahan. ‘’Kita jangan masuk, nanti kita dikerjain. Saya sudah mengetahui hal serupa ketika pernah jalan-jalan ke San Francisco dan di Wina, Austria dan beberapa Negara Eropa lainnya,’’ kataku kepada Achmad. ‘’Ah, ngak apa-apa, kita Cuma minum coca cola saja kok, paling bayarnya ngak seberapa,’’ kata Achmad, sambil membujuk saya, agar ikut.
Lalu, kami berdua masuk, dan memilih meja. Tiba-tiba saja, sudah ada dua orang perempuan. Satu perempuan etnis keturunan asal Arab, Maroko menemani Achmad Parembahan, dan satu yang lain lagi asli Madrid, Spanyol, menemani duduk di sebelah saya.
Setelah kami minum soft drink, coca-cola itu, segera saja saya bilang ke Achmad untuk pamit ke kamar, karena saya sudah ngantuk. Namun, alangkah kagetnya kita ketika disodorin ‘’billing’’ sekitar US$ 5000 hanya minum dua gelas coca-cola. ‘’Loh, saya kan hanya minum coca cola dua gelas kecil, kok semahal itu,’’ kataku ke kasir. ‘’Tidak, bapa, Bapa sudah masuk sini, dan pesan dua perempuan, ini artinya bapa sudah ‘’all in’’ (kedua perempuan itu bisa dimanfaatkan) , artinya ‘’bisa’’ pakai perempuan ini di kamar. Kalau, kalian berdua tidak ‘’memakainya’’ itu urusan lain. Tetap Bapa harus bayar,’’ kata Kasir itu, sambil didampingi dua orang bodyguard berbadan atletis dan besar seperti pegulat sumo terus ‘’memelototi’’ kea rah saya dan Achmad, wartawan Senior Radio Republik Indonesia itu.
Akhirnya, daripada ‘’pulang’’ ngak bawa nyawa, aku dan Achmad akhirnya patungan, masing-masing US$ 2.500. Padahal, uang ini adalah tabunganku untuk nengok adik dan untuk oleh-oleh yang akan aku beli dan aku bawa ke San Diego. Usai bayar U$ 5000 patungan berdua Achmad, lalu aku segera kembali ke kamar hotel, sambil aku ‘’ngumpat’’ Achmad terus menerus, karena sudah aku ingatkan dia, tapi dia tetap bandel. Inilah musibah yang aku ngak bisa lupakan sampai sekarang. Mungkin, ini adalah ‘’cobaan’’ dari Allah SWT. Aku diuji, apakah bisa luluh imannya terhadap godaan dua perempuan tadi , yang ketika duduk berempat, selalu ‘’menggoda dengan bujuk rayuan’’. Aku lihat sih, Achmad Parembahan, yang walau sudah haji ‘’hampir saja’’ kalah sama ‘’godaan Syaitan. ‘’Biarlah hilang uang, asal jangan hilang ke perjakaan,’’ kilah ku dalam hati. Allah SWT rupanya masih melindungku dari ‘’godaan dunia’’. Al-Qur’an bilang, hidup ini adalah cobaan dan sandiwara. Kalau kita mengikuti saja hawa nafsu kita atas sandiwara di dunia. ‘’Kita berarti gagal’’. ‘’Alhamdulillah, selama 25 tahun menjadi wartawan. Apa sih yang ngak bisa kalau kita ‘’sebagai wartawan’’ pengen cepat kaya. Selain kita bisa ‘’injak’’ kaki para koruptor, sogokan selain berupa ‘’amplop’’ biasanya juga ‘’disodori’’ ‘’perempuan’’ atau ‘’cewe’’. Auzubilahiminzalik’’.Alhamdullilah, Allah SWT masih tetap ‘’melindungiku’’.
• Wartawan Freelance dan Dosen Komunikasi (Journalistik) STIE Hidayatulah

January 31, 2010

from: Recently-Uploaded-Slideshows

Perjalanan Yang Belum Selesai (9)

Perjalanan-Yang-Belum-...

Perjalanan yang belum selesai (9).
Para Redaktur dan Reporter ingin ‘’mengkudeta’’ Surya Paloh, karena mengira ‘’Sudono Salim’’ menjadi pemilik ‘’mayoritas’’ saham harian Media Indonesia. Gagal masuk SCTV terkana diabetes. Akhirnya ditampung Bambang Budjono di Majalah ‘’D&R” majalah pengganti ‘’Tempo’’ yang dibreidel. Gagal Masuk Total FinaElf, walau sudah tes ‘’telanjang bulat’’ dilihat Ibu Dokter. Baru dua bulan bermarkas ‘’gedung D&R” di Salemba terbakar.
http://www.allvoices.com/contributed-news/4817559-perjalanan-yang-belum-selesai-9
Oleh: Muhammad Jusuf*

Harian Media Indonesia merupakan Koran atau media Harian pertama dan sampai saat ini menjadi terakhir, sebagai tempat saya berkiprah sebagai wartawan. Setelah mengawali karir di media sebagai Korektor di Majalah Tempo dan Majalah ‘’Zaman”, kemudian pindah ke LKBN Antara mulai menjadi seorang wartawan, kemudian setelah enam tahun di LKBN Antara (1984-1990), kemudian pindah ke Majalah Mingguan Ekonomi PROSPEK milik Soetrisno Bachir, dan baru pindah ke Harian Media Indonesia, ketika kantor awal mereka pada akhir tahun 1990 masih di Gondangdia Lama, Jakarta Pusat. Beberapa tahun kemudian, markas Media Indonesia pindah di Kedoya, Kebun Jeruk, Jakarta Barat, yang beberapa tahun kemudian tempat ini juga menjadi markas Metro TV sekaligus lokasi ‘’mesin percetakan’’ Harian Media Indonesia.
Di harian Media Indonesia, pimpinan Redaksi tertinggi awalnya disebut Redaktur Eksekufit. Hal ini disebabkan Drs Youslisyah sebagai Pemimpin Redaksi hanya jabatan ‘’simbol’’ atau non-aktif. Belakangan, baru Pemimpin Redaksi dipimpin oleh orang yang sebelumnya pada posisi Redaktur Eksekutif. Salah satu kebanggaan menjadi wartawan di Media Indonesia adalah, seperti halnya ketika mereka menerbitkan ‘’Harian Prioritas’’ mereka dikenal ‘’berani’’ dalam berbagai pemberitaannya. Hal ini berbeda dengan media sejenis pada masa ini, terutama dimasa rezim ‘’Suharto’’ berkuasa. Walaupun Surya Paloh dekat dengan Presiden Suharto, terutama dengan anak-anak mendiang Presiden kedua Indonesia itu, seperti dengan Bambang Trihatmodjo. Apalagi, isteri Surya Paloh masih kerabat Rosanno Barach, salah satu pemegang saham dan pengendali Bimantara Group, sehingga tidak heran bila dulu ada kesan, atau memang betul bahwa ‘’Harian Media Indonesia’’ sebagian saham milik Bambang Trihatmodjo.
Idialisme Surya Paloh di dalam menjalankan roda ‘’Harian Media Indonesia’’ memang patut diangkat ‘’jempol’’. Apalagi, pada awal, ketika ‘’Media Indonesia’’ mulai ‘’diambil alih’’ manajemen dan saham kepemilikannya dari Drs Youslisyah ke Surya Paloh, Media Indonesia tidak mudah menarik para pembaca baru, maupun menarik banyak iklan, sehingga ada kabar media ini sempat ‘’kehabisan modal’’. Tidak heran bila ada kabar harian ini pernah ‘’disuntik’’ Bimantara group, bahkan disuntik oleh pengusaha kaya Sudono Salim. Ini bisa dilihat ketika ‘’Sudono Salim’’ pernah mengirim tim ‘’manajemen’’ mereka untuk membantu ‘’manajemen Harian Indonesia’’. Kabar mengenai apakah Harian Media Indonesia pernah disuntuk modalnya oleh Bimantara atau pribadi Bambang Trihatmodjo atau pernah disuntik oleh kelompok Sudono Salim memang belum jelas benar. Apalagi, adanya pengalihan atau siapa sebenarnya pemilik Media Indonesia group ini tidak pernah secara diumumkan kepada umum, berupa brosur, seperti layaknya kalau perusahaan mau atau akan ‘’go public’’.
Itulah sebabnya, dulu ada sekelompok para Redaktur dan Reporter ingin ‘’mendongkel’’ Surya Paloh agar ‘’keluar’’ dari Media Indonesia, setelah mereka melihat lebih dari 10 orang-orangnya ‘’Sudono Salim’’ ada di dalam manajemen harian media Indonesia, sehingga para Redaktur dan Reporter ini mengira mayoritas saham Harian Media Indonesia sudah milik Sudono Salim, sehingga mereka yang ‘’tidak suka’’ dengan Surya Paloh mencoba ‘’mengkudeta’’. Bahkan, ada diantara para Redaktur itu secara terbuka ‘’melawan’’ langsung atas segala perintah Surya Paloh.
Pernah ada rencana Rapat Kerja para Redaksi di Hotel Horizon Jakarta, dan ada Redaktur Eksekutifnya ketika itu ‘’melawan perintah’’, langsung diturunkan jabatannya dari Redaktur Eksekutif menjadi Reporter. ‘’Mulai hari ini kamu jadi Reporter,’’ kata Surya Paloh, ketika itu. Peristiwa ini terjadi seusai lebih dari 20 Redaktur termasuk reporter menandatangani ‘’petisi’’ penolakan terhadap kepemimpinan Surya Paloh. Akhirnya, bukannya Surya Paloh yang ‘’terjungkal’’, malah hampir semua para Redaktur dan Reporter itu yang malah ‘’keluar’’ atau mengundurkan diri. Satu hal yang harus dipuji dari Surya Paloh, dia tidak ‘’menaruh dendam’’ terhadap para Redaktur dan Reporter yang ingin ‘’mengkudeta’’-nya ketika itu. Malah banyak diantara mereka yang setelah keluar, diterima kembali bekerja di Harian Media Indonesia dan Metro TV, dan sebagian dari mereka terus bekerja sampai pensiun.
Surya Paloh selain dikenal tegas, juga bekerja ingin cepat. Kadang kita baru satu langkah ke depan, dia sudah tiga langkah sampai duluan. Tidak heran, walau dia tidak ingin ikut campur langsung terhadap isu keredaksian, namun selalu ingin mencari orang-orang terbaik dari luar agar bisa memimpin harian Media Indonesia. Itulah sebabnya ketika saya baru diangkat menjadi ‘’Koodinator Reportase’’ Surya Paloh perlu memanggil saya ke salah satu ruangan sambil berujar : ‘’Apa sih kelebihan mu Suf,’’ tegas Surya Paloh kepada Saya, yang baru saja beberapa hari diangkat Redaktur Eksekutif Nasruddin Hars menjadi Koordinator Reportase, dari sebelumnya Redaktur Internasional. Saya, ketika itu, diam saja, karena ini hanya dijawab dengan pelaksanaan dalam bekerja.
Keinginan Surya Paloh agar Media Indonesia menjadi Harian atau Koran terbaik memang terus dilakukan dari sejak awal, mulai dari dia mengelola harian Prioritas. Lihat saja orang seperti Panda Nababan, Fakri Ali, Amir Daud, Nasruddin Hars, Bambang Harimurti pernah ‘’direkrut’’. Ia pun pada masa saya mencoba merekrut beberapa orang luar seperti Andy Noya dan Usamah Hisyam. Belakangan, setelah saya keluar, dia masih saja mencari dan terus mencari orang-orang terbaik itu, seperti Saur Hutabarat, Djafar Assegaf, Tuti Adhitama, bahkan mantan Pemimpin Redaksi Harian Kompas Suryopratomo pun kini juga ditampungnya. Hasilnya, memang sudah terasa, iklan pun sudah banyak masuk. Masa-masa kesulitan keuangan pun sudah dilewati. Walaupun mungkin belum ‘’break even point’’ karena investasi awal yang keluar sudah ‘’terlalu’’ banyak.
Pindah ke SCTV
Sekitar bulan April 1986, saya dating ke kantor Redaksi Surya Citra Televisi Indonesia di Blok M Jakarta. Saya menemui Eddy Ellison, mantan Redaktur Eksekutif Harian Media Indonesia yang sudah pindah ke SCTV, karena posisinya di Harian Media Indonesia ‘’sudah diganti’’ Bambang Harimurti. Di SCTV memang Pemimpin Redaksinya adalah Sumita Tobing, rekan Eddy Ellison ketika sama-sama di TVRI.
Ketika bertemu Eddy Ellison, saya ungkapkan bahwa saya berminat menjadi Reporter SCTV. Setelah ada lampu merah dari Bapak Eddy Ellison dan Sumita Tobing, saya pun besoknya melayangkan surat pengunduran diri ke HRD Media Indonesia.
Namun, setelah saya seminggu masuk ke ‘’SCTV’’, ternyata ada kabar buruk bagi saya dan keluarga. Saya, yang sudah telanjur ‘’keluar’’ dari Media Indonesia dinyatakan tidak lulus tes di SCTV, padahal saya kira, dengan komitmen awal dari Bapak Eddy Ellison, masalah lain, seperti tes kesehatan tidak diperlukan lagi. Apalagi, ketika itu saya merasa ‘’sehat’’, karena tes kesehatan, baik ketika masuk Majalah Tempo dan LKBN Antara saya secara keseluruhan dinyatakan sehat.
Rupanya buku laporan dari RS Pertamina yang saya berikan ke poliklinik RCTI di Kebon Jeruk, karena SCTV menggunakan jasa poliklinik RCTI untuk mengetes calon karyawannya ada tercantum kalau saya sudah terkena ‘’diabetes’’. Buku laporan ini saya peroleh, ketika para wartawan yang bertugas ‘’ngepos’’ di Pertamina mendapat ‘’bonus’’ berupa ‘’general chek up’’ gratis di Rumah Sakit Pertamina, mulai dari kesehatan mata, paru-paru, jantung, sampai pemeriksaan darah dan urin untuk mengetahui ada tidaknya penyakit di dalam tubuh. Ternyata, dari general chek up itu memang dokter yang menilai secara keseluruhan saya dinyatakan sehat. Namun, saya tidak memperhatikan catatan kecil, bahwa saya perlu dan direkomendasikan agar perlu memperoleh pemeriksaan lebih lanjut ke dokter spesialis penyakit dalam, karena kadar gula darah saya di atas normal, sekitar 300’an. Padahal normalnya sekitar 120.
‘’Bagai disambar petir’’ disiang hari, saya langsung mendapat kabar dari Personalia SCTV, langsung di depan mata Ibu Sumita Tobing dan Eddy Ellison, kalau saya tidak diterima di SCTV. Jadi, ini boleh jadi ‘’kecelakaan’’. Sudah bikin surat pengunduran diri dari Media Indonesia, padahal saya belum tentu pasti diterima di SCTV. Itulah sebabnya, setelah ini saya mencoba tes di berbagai perusahaan lain. Hasilnya, ketika saya sudah diterima di perusahaan minyak Total FinaElf untuk jadi Humas untuk ditempatkan di Balikpapan juga gagal. Padahal di Total ini saya sudah lulus tes wawancara dan tes lain, bahkan sudah tanda tangan kontrak kerja penerimaan. Namun, dengan catatan, saya baru dan boleh bekerja setelah dinyatakan ‘’fit’’ di poliklinik milik Pertamina di Jalan Perwira. Akhirnya, setelah dites di rumah sakit Pertamina ini, saya dinyatakan ‘’tidak fit’’, artinya ‘’penyakit diabetes’’ saya menyebabkan saya dinyatakan tidak fit. Padahal, tes di Poliklinik di Pertamina ini tesnya seperti masuk menjadi tentara, kita disuruh ‘’telanjang bulat’’, bahkan dokter perempuan di Poliklinik milik Pertamina itu ‘’memelototi’’ ‘’burung kemaluan saya’’ dari dekat. Malu, juga rasanya. Tapi, demi diterima di Total, aku mau saja ‘’disuruh’’ Ibu Dokter itu, walau akhirnya aku dinyatakan ‘’tidak fit’’.
Setelah beberapa bulan ‘’nganggur’’, ada kabar pemilik Majalah Tempo seperti Goenawan Muhamad berencana untuk ‘’membeli’’ Majalah Detektif dan Romantika, yang ketika itu adalah sebuah Majalah yang berisi berita-berita criminal dan masalah hukum. Pengambil alihan ini, konon untuk ‘’menampung’’ para wartawan ‘’Tempo’’ yang mendapat ‘’black list’’ dari pemerintah sehingga tidak bisa lagi ‘’bekerja’’.
Akhirnya, atas inisiatif Bapak Zulkarnaen, Yusril Djalinus dan beberapa senior Majalah Tempo, Majalah D&R akhirnya diambil alih, dengan Bambang Budjono menjadi Pemimpin Redaksinya, dan hampir sebagian besar Redaktur lainnya juga eks wartawan Tempo, seperti Happy Sulistiadi, Rini PWI, Rustam F Mandayun, Diah Purnomowati, Yusril Djalinus, Putu Setia, dan bidang Design Grafis dan jajaran manajemen lainnya.
Berkat kebaikan hati bekas Manager HRD Tempo, yang sebelumnya jadi HRD Manager PT Citra Media Nusa Pernama ‘’Harian Media Indonesia” Ibu Nita, dan Bambang Bujono, walaupun setelah dites kesehatan di Rumah Sakit Carolus, saya tidak bisa menghindari lagi kalau ada penyakit ‘’diabetes’’, maka saya mulai Mei 1996 bekerja di Majalah D&R, ketika itu masih di Salemba, Jakarta Pusat.
Namung, malang, baru dua bulan bermarkas di Salemba, gedung ini turut terbakar, banyak barang saya, dan juga teman, bahkan sepeda motor Fotografer Rully Kusuma ikut terbakar , akibat kerusuhan yang diawali demo di depan kantor Partai Demokrasi Indonesia di Jalan Deponegoro yang merambat ke segala arah di Ibukota, termasuk Kantor ‘’Baru’’ D&R. Padahal, kata Direktur D&R, investasi untuk Majalah D&R, termasuk perangkat computer baru sudah miliaran. Padahal belum sempat diasuransi.
Kami pun kemudian pindah ke Jalan Cikini II, sebelum pindah lagi ke ‘’Gedung Baru Tempo” di jalan Proklamasi. Setelah dibeli Jakarta Post, kantor kami pindah lagi ke Jalan Iskandarsyah Raya, Blok M, Jakarta Selatan, sampai tutup.
Sejak awal terbit, Majalah D&R manajemen baru tidak mencantumkan nama-nama wartawan eks Tempo di dalam mashed, karena masih di ‘’black list’’. Yang ada adalah orang-orang, atau karyawan dan pimpinan Jawa Pos Group. Tidak heran di Masheed nama Pemimpin Redaksinya adalah Margiono, pimpinan di Jawa Pos, sebagai symbol di ‘’Masheed’’ di Majalah D&R. Memang, yang kerap memberikan ‘’wejangan’’ di “D&R’’ adalah ‘’Dahlan Iskan’’ bukan ‘’Gonawan Muhamad’’.
Tidak heran, Margiono, yang kini menjadi Ketua Umum Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) inilah yang ‘’dipanggil’’ kepolisian menjadi ‘’terdakwa’’ ketika ‘’Majalah D&R” diadukan Menteri Penerangan ketika itu Hartono, karena memuat ‘’cover’’ Kepala Suharto, sedangkan badannya bergambar ‘’raja’’ persis Raja di kartu ‘’Remi’’. Menurut Jenderal (Punr) Hartono, ketika itu Menteri Penerangan, Majalah D&R telah ‘’melecehkan” dan ‘’Menghina” kepala Negara. Padahal, Margiono yang di Masheed tercantum sehari-hari sebagai Pemimpin Redaksi, namun “jarang datang’’ karena sebenarnya ‘’non-aktif’’. Sebenarnya, Bambang Bujono lah Pemimpin Redaksi yang nyata.
Selain Margiono, juga para Redaktur lain yang ada di dalam Masheed juga dipanggil, termasuk saya. Kita sempat belasan jam di ‘’interogasi’’ di Markas Besar Kepolisian Republik Indonesia. Seandainya saja ‘’Pak Harto’’ masih terus berkuasa, mungkin saja Bapak Margiono, saya dan teman-teman lain akan merasakan ‘’bui’’, kalau terbukti menjadi ‘’terpidana’’.
Alhamdullia, Pak Harto keburu ‘’lengser’’. Proses cover Majalah D&R ini pun tidak dilanjutkan lagi. Alias ‘’di SP3-kan”. Walau surat ‘’SP3-nya’’ belum pernah kami lihat.
Setelah satu tahun di kelola sendiri, dan Majalah Tempo terbit lagi, sebagian besar ex wartawan Tempo kembali mengelola Majalah Tempo ‘’baru’’, hanya beberapa orang saja yang tersisa, dan Bambang Bujono tetap menjadi Pemimpin Redaksi D&R, maka ada pemikiran untuk ‘’menjual’’ majalah ini ke Jakarta Post. Namun, setelah berjalan dua tahun, oplah D&R terus merosot, mungkin mulai ‘’tergerus’’ oplah Majalah Tempo, yang ‘’mirip’’ sama dengan isu dan isi D&R, akhirnya setelah tiga tahun berjalan, Majalah D&R walaupun secara resmi belum ditutup, namun karyawannya mulai Januari tahun 2000 mulai ‘’mendapat pesangon’’ dan dirumahkan.

• Wartawan Freelance dan Dosen Komunikasi (Jurnalistik) STIE Hidayatullah

January 31, 2010

from: Recently-Uploaded-Slideshows

Perjalanan Yang Belum Selesai (10)

Perjalanan-Yang-Belum-...

Perjalanan yang belum selesai (10).

http://www.allvoices.com/contributed-news/4852712-perjalanan-yang-belum-selesai-10

Bersama Yenny Wahid diterima menjadi Koresponden Radio Singapore
Internasional di Jakarta. Merangkap pekerjaan Reporter Radio Singapore
Internasional dan Hager Internasional. Melepas keduanya, karena
serakah, ingin peroleh income Rp 200 juta per bulan dari PT Asuransi
Jiwa Tugu Mandiri. Mencoba ‘’mendamaikan konflik Islam vs Kristen di
Ambon’’. Baru sebulan bertugas di Ambon, konflik pecah, mengungsi ke
Jakarta, satu bulan kemudian kembali ke Ambon membangun tiga radio
komunitas di dua perbatasan ‘’Kristen-Islam’’. Malam itu, Ambon,
bagai kota lautan api.

Oleh; Muhammad Jusuf *

Belum sempat ‘’nganggur” aku dipanggil Ibu Kun, mantan Redaktur Senior
tabloid “Zaman”, dimana tahun 1983’an aku pernah menjadi korektornya.
Rupanya, Ibu Kun ketika itu menjadi Production Manager proyek
Manajemen ‘’Coastal Resources Management” University of Rhode Island’’
dari Amerika Serikat yang memperoleh dana USAid melaksanakan proyeknya
di berbagai kota di Indonesia.
Ketika aku tiba di Ratu Plaza lantai 18, Country Manager Mr Dr. Ian
asal Australia mewancarai aku. Dia ditemani Ibu Kun. Sesampainya aku
di rumah, pukul 03.00 sore, Ibu Kun menelpon ku, kalau aku diterima
menggantikannya menjadi Production Manager, sedangkan Ibu Kun sendiri
dipromosikan menjadi Out Reach Manager.
Ketika itu, Majalah D&R belum resmi tutup, namun tengah
‘’membagi-bagikan pesangon kepada para wartawan. Ketika aku sampai di
kantor D&R di Jalan Iskandarsyah, Bambang Bujono, Pemimpin Redaksi
Majalah D&R ketika itu bilang, ‘’Ibu Kun, beberapa hari lalu telpon,
dia ingin konfirmasi mengenai kamu Suf,’’ kata Bambang, kepadaku. Aku
sendiri hanya ‘’mesem-mesem saja, malu, mengingat, baru tanggal 1
Januari 2000 Majalah D&R resmi tutup. Sedangkan aku sendiri masih satu
minggu lagi berkantor di Majalah itu, dan sudah pula ada yang menerima
aku di tempat baru.
Aku oleh Mr Ian ditempatkan di kampus Dramaga Bogor, kebetulan proyek
yang juga ada perwakilan di Manado, Balikpapan dan Lampung ini
memiliki kantor perwakilan di Dramaga, IPB sebagai ruang produksi,
diantaranya untuk memproduksi dan mendesign buku-buku laporan dan buku
hasil penelitian mengenai manajemen lingkungan di laut pesisir.
Kebetulan konsultan utama proyek ini adalah Dr.Rokhmin Dahuri, ketika
itu dia belum menjadi Menteri Kelautan, Departemen Kelautan sendiri
ketika itu belum dibentuk.
Namun, baru tiga bulan bekerja di Proyek ini, aku menghadapi kesulitan
untuk mengatur waktu kuliah S2-ku di Universitas Indonesia. Apalagi,
aku sudah pada tahap akhir semester. Jadi, saying kalau aku tidak
menuntaskan kuliah ku, sehingga aku membuat surat pengunduran diri
kepada Mr Ian dan Ibu Kun, kalau aku tidak bisa mengatur waktu antara
tugasku sebagai mahasiswa S2 Universitas Indonesia dengan tugasku
sebagai Manager Produksi proyek University of Rhode Island di
Indonesia.
Untuk membiayai sekolah S2 ku, aku mengikuti tes untuk jadi
koresponden Radio Singapore Internasional, yang kebetulan memasang
iklan di Kompas, kalau Radio milik pemerintah Singapura ini memerlukan
Radio Broadcaster untuk ditempatkan di Singapora, dan koresponden
untuk ditempatkan di Jakarta.
Ketika itu, banyak juga peserta yang mengikuti tes, baik untuk
Broadcaster di Singapura maupun koresponden di Jakarta. Aku melihat
ada banyak ‘’bule’’ yang ikut tes ketika itu diselenggarakan di Hotel
Wisata yang bersebelahan dengan Hotel Indonesia. Terlihat juga Yenny
Wahid, putrid mantan Presiden Indonesia Abdurrahman Wahid juga ikut
tes.
Yang mewawancarai saya ketika itu adalah senior Radio Singapor,
seperti Ibu Zaenab Rahim, dan Bapak Noetil. Hasilnya, untuk
koresponden, ada dua orang yang lulus, aku sendiri dan Yenny Wahid.
Namun, Yenny Wahid kemudian mengundurkan diri, karena Ayahnya terpilih
menjadi Presiden Republik Indonesia. Sedangkan mereka yang diterima
menjadi Broadcaster di Singapura diantaranya saudara Monang, Harry
Soehartanto dan Rane Hafied.
Selain di Radio Singapore, ketika itu aku juga merangkap menjadi
koresponden Hager International dari Jerman. Dari kedua media ini,
pendapatanku lumayan. Rata-rata sekitar Rp 10 juta per bulan. Cukup
besar. Bahkan, tiga bulan pertama aku bekerja untuk Hager
Internasional, penghasilan ku lumayan, bisa jauh lebih besar, sehingga
tidak heran bila dalam beberapa bulan kemudian, aku mampu membeli
mobil ‘’Kijang bekas” seharga Rp 39 juta, Kijang Rover tahun 1996.
Karena kedua media ini membayar ku per satu tulisan kalau di muat,
karena Radio Singapura membatalkan mengangkat Koresponden resmi,
sehingga aku diperhitungkan sebagai Koresponden Freelance atau Part
Time. Tapi, lumayan, Radio Singapure membayarku antara US$ 50 sampai
US$ 200 dolar Singapura per satu berita, tergantung panjang pendek dan
aktualitas berita.
Namun, sifat serakahku sebagai manusia kembali muncul, seperti yang
sudah-sudah, aku selalu pindah ke perusahaan lain yang menggajiku naik
berlipat. Seperti kepindahanku dari LKBN Antara ke Majalah Prospek,
karena gaji ku naik 10 kali lipat. Nah, kini tawarannya bukan dari
perusahaan Media, tetapi dari perusahaan Asuransi, PT Asuransi Tugu
Mandiri, yang sebagian sahamnya milik Pertamina dan Bob Hasan.
Di perusahaan ini ada lowongan Branch Manager untuk di tempatkan di
Balikpapan, kota kelahiranku. Ketika aku lulus tes, aku ditawari gaji
pokok Rp 3 juta per bulan. Mobil dinas dan insentif lain, selain
proyeksi bonus dan insentif, yang katanya mencapai Rp 200 juta.
Pertama, penempatan ke Balikpapan, kota kelahiran ku merupakan daya
tarik utama. Kedua, proyeksi memperoleh bonus Rp 200 juta per bulan
daya tarik lain. ‘’Bukankah ini peluang bergaji besar, seperti Gaji
Direktur Utama Pertamina,’’ dalam hatiku berkata. Sehingga, tanpa
pikir panjang lagi, aku menerima saja tawaran menjadi Branch Manager
ini.
Setelah mengikuti Training selama satu minggu di Puncak, yang diikuti
calon Branch Manager PT Asuransi Tugu Mandiri yang akan ditempatkan di
seluruh cabang, aku pun mulai pindah ke Balikpapan. Isteri dan kedua
anak ku sendiri tidak ikut. Kata Isteriku, mereka takut ikut, karena
belum jelas, apakah betul income sebesar itu bisa diperoleh.
Tentu saja, dengan berat hati aku lepaskan pekerjaanku yang sudah enak
di Radio Singapore Internasional dan Hager International Bulletin.
Untuk Hager International aku digantikan teman kuliah sama-sama
mengambil Kajian Wilayah Amerika di Universitas Indonesia , Hananto
Satyo. Sampai kini Hananto Satyo tetap menekuni menjadi koresponden
Hager Internasional.
Benar, saja, setelah tiga bulan, ternyata, aku tidak pernah memperoleh
gaji melebihi gaji pokok. Padahal, ketika ke Balikpapan, saya sudah
membawa setengah barang-barang rumahku, termasuk kompor gas dan
peralatan lain, artinya, aku sudah siap untuk pindah sampai pension di
Balikpapan. Namun, ternyata, apa yang dijanjikan PT Asuransi Tugu
Mandiri bahwa aku bisa memperoleh ‘’bonus’’ rp 200 juta per bulan,
kalau aku mencapai target income seperti yang perusahaan proyeksi dan
targetkan. Sedangkan aku selama enam bulan terakhir, tidak pernah
mencapai target. Padahal ketika ‘’hijrah’’ pulang kampung, aku membawa
serta adik kandung ‘’Rachmat Edy’’ agar dia bisa membantu ku
mengembangkan bisnis baru, bidang asuransi ini. Padahal, Rachmat Edy
yang harus mengorbankan pekerjaannya sebagai wartawan Merdeka dan
Tabloid Paron sertan mantan Korektor Majalah Prospek ini sesampainya
di Balikpapan juga tidak bisa memperoleh apa yang bisa dijanjikan
perusahaan.
Boleh jadi, inilah yang banyak diungkapkan banyak pakar. Kalau kita
ingin sukses, kita harus bekerja secara focus di satu bidang. Jangan
loncat-loncat ke bidang lain. Banyak orang sukses, karena dia menekuni
satu bidang. Contohnya, BJ.Habibie, sebagian besar hidupnya difokuskan
pada pengembangan industry pesawat terbang. Bill Gates pada
pengembangan perangkat lunak computer, Herman Kertajaya bidang
Marketing, Surya Paloh dan Dahlan Islan di bidang bisnis Media,
walaupun Surya Paloh awalnya berbisnis Katering, tetapi belakangan
lebih focus ke bisnis Media, walau bisnis awal tetap menjadi penopang
utama bisnis Media.
Kembali ke Jakarta, aku sempat ngangur. Lebih enam bulan, itulah
sebabnya, mobil King Rover ku sempat aku jual, untuk menopang hidup
dan membiayai kedua anak perempuanku sekolah. Sempat mencoba bersama
teman mantan reporter di D&R Aendra Medita dan Budi Nugroho bergerak
di Bidang Public Relations dan konsultan Event Organizing, tetapi
dalam beberapa bulan, ngak dapat klien, sehikngga kami sempat
bergabung dengan group Cakrisma pimpinan Eggy Masadiah yang pernah
memproduksi film ‘’Lari Dari Blora’’ itu.
Namun, enam bulan bergabung dengan Bapak Egy Masadiah yang belakangan
salah satu calon anggota DPR dari Partai Golkar itu, saya ditawari
Yayasan Bina Swadaya menjadi Communications Specialist yang bertugas
memberdayakan ekonomi masyarakat kota Ambon, dan melaksanakan proyek
komunikasi perdamaian pasca konflik, khususnya terhadap para pemuda
Kristen dan Islam di kota Ambon.
Ketika itu, salah satu alasan aku memilih dan menerima tawaran Yayasan
Bina Swadaya, karena di Cakrisma aku belum digaji, hanya komisi.
Padahal, belakangan Budi Nugroho dan Aendra Medita yang tetap bertahan
di Cakrisma mendapat gaji pokok. Aku sendiri tidak bisa hidup ‘’tanpa
gaji’’, karena biaya sekolah kedua anakku, terutama anak pertamaku
yang sudah kuliah cukup besar.
Sebenarnya, ketika aku tes di Yayasan Bina Swadaya, salah satu
sainganku adalah bekas temanku yang pernah sama-sama menjadi Reporter
di Harian Media Indonesia, saudara Gerad Bibamg. Hanya saja, Gerad
Bibang ketika itu baru saja selesai bekerja sekitar 10 tahun di Radio
Jerman (DW) dan Radio Helversum, Belanda.
Aku pernah bertanya kepada Totok, yang menjadi HRD Yayasan Bina
Swadaya, kenapa kok aku yang dipilih bertugas ke Ambon, bukan Gerald
Bibamg. ‘’Aku melihatnya, Anda, lebih obyektif dan tidak memihak.
Padahal, yang kita hadapi adalah konflik berlatar agama, yaitu konflik
antara Umat Islam dan Kristen di Ambon,’’ kata Totok kemudian.
Konflik Pecah.
Sekitar awal Februari 2004, aku mulai ditempatkan di Ambon, bersama
team leader IDBM Adiyoga, ditemani konsultan senior dari Yayasan Bina
Swadaya Saudara Ruru Basanta. Ruru ini hanya menemani sekitar satu
bulan, untuk persiapan jalannya proyek bantuan pemerintah Selandia
Baru (NZAid) ini.
Namu, baru sekitar 1 bulan berada di Ambon, bersamaan dengan HUT
Republik Maluku Selatan, tanggal 25 April 1984, terjadi kerusuhan di
tengah kota Ambon, tepatnya di sekitar perbatasan antara Batu Gajah,
dikenal sebagai daerah ‘’Kristen’’ dengan kawasan Islam, di sekitar
Waihaong, tempat Masjid Raya Ambon berada.
Ketika itu kabarnya, sudah ada kerumunan dan konsentrasi massa yang
cukup besar di sekitar kawasan perbatasan Waihaong dan Batu Gadjah
itu. Aku ketika itu tengah mendapat giliran memasak dari Bapak
Adiyoga. Bersama saudara Ruru Basanta, kami ketika itu tengah berada
di dapur. Kebetulan rumah merangkap kantor kami yang dikontrak Yayasan
Bina Swadaya terletak di atas bukit, masih masuk kawasan ‘’Kristen’’
yang baru saja habis terbakar. Namun, seusai dibangun penghuninya,
kami kontrak. Penghuninya sendiri memilih ‘’hijrah ke Jakarta’’,
katanya ikut anaknya yang bekerja di Jakarta.
Jadi, di atas bukit, rumah kontrakan kami, kami bisa memantau dengan
jelas, apa yang bisa terjadi di perbatasan antara kawasan Batu Merah,
yang berpendudk Muslim dengan kawasan Amantelu, kawasan kami, yang
umumnya berpenduduk Kristen. Hal ini mengingat, selama lima tahun
pertikaian antara Kristen dan Islam di Ambon, terjadi polarisasi
tempat tinggal di Ambon. Yang tadinya mereka berbaur , antara penduduk
Islam dengan Kristen, kini akibat konflik, banyak pendudk beragama
Kristen yang tinggal di kawasan Islam di jual ke penduduk Islam,
begitu pula sebaliknya. Bahkan banyak diantara mereka meninggalkan
begitu saja tempat tinggal mereka, karena keburu konflik pecah.
Nah, ketika kami, aku dan Ruru mendengar banyak orang berlarian di
depan rumah kontrakan kami, yang arahnya dari atas bukit, aku berdua
berlari ke ruang tamu, dan betul kami tengah menyaksikan ada ratusan
pemuda dari arah bukit yang banyak membawa berbagai senjata taham dan
senjata rakitan tengah berlarian menuju perbatasan Amantelu dan Batu
Merah. Lalu, kami berdua bergegas menuju pintu dapur, Ruru sendiri
mencoba segera mematikan kompor minyak tanah yang masih menyala,
tengah menggoreng ikan, sempat hangus sebagian.
Betapa terperanjatnya kami, ketika dari jendela Nampak ratusan, bahkan
mungkin ribuan massa dari kedua belah pihak sudah memenuhi konsentrasi
mereka di perbatasan itu. Bahkan, kabarnya, sudah ada korban
berjatuhan dari kedua belah pihak.
Aku pun, bersama Ruru dan Ida Bagus Adiyoga segera ‘’mengungsi’’ ke
pos milik kesatuan ‘’Kostrad’’ yagn ada di atas bukit, sekitar 100
meter dari kantor dan rumah kontrakan kami. Kami, bersama beberapa
penduduk di sekitar itu mencoba ‘’mengungsi’’ sementara.
Rupanya, hari itu berjalan demikian cepat. Jakarta sempat menerjunkan
bala bantuan kesatuan Brimob dari kesatuan di Kalapa Dua Jakarta.
Dengan beberapa kali penerbangan dengan ‘’Hercules’’ mereka tiba di
Bandara Ambon. Namun, ternyata ada kabar, sekitar 3 orang dari
kesatuan Brimob ketika baru turun dari truk pengangkut mereka di
sekitar perbatasan Batu Gajah tewas. Katanya, mereka tewas terkena
‘’sniper’’ yang diduga dibidik oleh kelompok ‘’pro RMS”, atau malah
ada kabar dibiding oleh ‘’Provokator’’ yang tidak ingin Ambon dan
kawasan Maluku lainnya tertib dan aman.
Bahkan, Thamrin Tomagola di dalam tulisannya di Jakarta Post ketika
itu menilai, peluru yang menewaskan anggota Brimob itu adalah berasal
dari jelis senjata laras panjang yang hanya dimiliki ‘’Kopassus’’ atau
senjata hasil rampasan atau yang dimiliki para pemberontak yang
berasal dari selundupan dari luar.
Kekacauan rupanya semakin parah, ke esok harinya, bahkan banyak
tempat-tempat seperti Hotel Aman di kawasan Mardika dan Batu Merah di
granat, sehingga terbakar, banyak gedung perwakilan lembaga
kemanisiaan PBB dan lembaga swadaya asing lainnya juga digranat dan
hangus terbakar. Hingga , setelah Adiyoga berkonsultasi ke Jakarta,
kami, bertiga memutuskan untuk segera mengungsi sementara ke Jakarta.
Sedangkan kantor dititipkan ke Manager Kantor, Saudara Buce, yang
memang penduduk yang tinggal dekat Kantor.
Kami sendiri sebenarnya sudah menyewa mobil untuk mengungsi ke
Jakarta. Namun, untuk menuju ke Bandara, kami ngak bisa, karena
satu-satunya jalan raya menuju Bandara, yaitu melalui kawasan Batu
Merah diblokade kelompok Muslim.
Kebetulan, teman kecilku, sama-sama bekas satu asrama, dan kedua
orang tua sama-sama satu kesatuan di Kobekdam di Cililitan, saudara
Chaerul Fasha, Kolonel Infantri, ketika itu bertugas menjadik Kepala
Puskopad Kodam Pattimura di Ambon. ‘’Bapak Kolonel Chaerul, aku, Yusuf
nih, mau ngungsi, tapi ngak bisa pakai mobil, ngak bisa lewat Batu
Merah, bagaimana saran Anda,’’ teriak ku ke Chaerul, melalui ponselku.
‘’Yusuf, Anda kan Moslem, teriak saja Allahu Akbar, sambil lewat di
sana,’’ saran Chaerul. ‘’Wah, ngak bisa. Perawakan ku kan kayak Cina,
pasti belum sempat sampai diperbatasan, aku sudah dipanah,’’ jawab ku,
sambil teriak ke Bapak Chaerul.
Ketika aku melakukan kontak komunikasi, sempat terdengar bunyi ‘’bom’’
. Rupanya ada ledakan granat di hotel Aman. Aku karena kaget, sempat
larin dan terperosok di depan rumah. Mengingat, rumah kontrakan di tas
bukit, dan di bawahnya banyak batu dan berbagai benda tajam, seperti
beling, ketika aku terperosok ke jurang di depan rumah, lutut dan
beberapa daerah di kaki dan paha tergores benda taham. Banyak goresan
luka kecil.
Akhirnya, aku, Adiyoga dan Ruru Basanta memutuskan mengungsi kea rah
Air Solobar, kawasan Pantai yang berlawanan dengan arah ke Batu Merah.
Setelah menggunakan mobil Kijang, kita sebenarnya mencoba jalan
melingkar lewat gunung menghindari kawasan Batu Merah. Namun, juga
sulit dan ngak bisa tembus menggunakan kendaraan. Akhirnya, kami
memutuskan melalui Air Solobar, dan sampai di sana kami mencharter
‘’Speed Boat’’ menuju Bandara. Selain Ruru , Adiyoga dan Saya, ada
sekelompok Ibu-ibu dan anaknya ikut ‘’mengungsi’’ kea rah bandara.
Namun, celaka, baru satu jam di perjalanan, mesin speed boat kami
mati. Rupanya, pengemudi lagi mencari penyebab matinya mesin. Lebih
dari dua jam kamk terapung-apung di laut teluk Ambon. Saya lihat,
kapal bukannya semakin dekat pelabuhan, tetapi semakin mengaruh ke
laut lepas , Laut Banda. Aku lihat Saudara Ruru Basanta agak
‘’pucat’’. Ada kabar dia ngak bisa berenang. Aku sendiri, walau bisa
berenang, ngak jamin juga bisa selamat, kalau kapal terapung di luat.
‘’Bisa mati kelaparan’’.
‘’Beruntung’’ pengemudi menemukan penyebab macetnya mesin. Banyak
kotoran melilit kipas mesin kapal. Akhirnya, setelah sempat
dibersihkan, kapal bisa melaju kembali ke kawasan dekat Bandara. Kami
pun, setelah mendarat, bergegas menuju Bandara. Namun sesampainya di
Bandara, kami katanya baru saja lima menit lalu ditinggal pesawat
‘’Lion Air’’ menuju Jakarta via Makasar.
Kami terpaksa ‘’mengungsi’’ sementara di sekitar bandara. Karena takut
‘’nginep’’ di hotel di sekitar kawasan Bandara, yang katanya di kuasai
‘’Kristen’’, aku dan Ruru yang Muslim terpaksa memilih ‘’nginep’’ di
Wisma milik Angkatan Udara di sekitar Bandara.
Sekiar pukul 20.00 malam aku menyaksikan kota Ambon dari kejauhan,
dari sekitar Bandara Ambon, bagai kota lautan api. Di mana-mana asap
membumbung. Besok paginya, Kompas memberitakan, banyak hotel, dan
gedung di kota Ambon yang dibakar dan digranat, serta beberapa orang
tewas akibat pertikaian pada tanggal 14 April hingga 15 April 2004
itu, termasuk beberapa anggota Brimob yang baru tiba di kota Ambon
itu.
Setelah satu bulan ‘’beristirahat’’ di Jakarta, aku ditugaskan kembali
ke Ambon. Ruru sendiri tidak lagi ikut. Ida Bagus Adiyoga sendiri baru
akan menyusul satu bulan kemudian. Selama di Ambon, kami melakukan
berbagai proyek pemberdayaan ekonomi dan membangun system komunikasi
untuk menjaga agar konflik kedua belah kelompok ini tidak terjadi
lagi. Kami sempat membangun tiga Radio FM komunitas, satu di
perbatasan antara Waihong yang Muslim dengan Batu Gadjah yang Kristen,
kemudian di Perbatasan Air Solobar yang Kristen dan Islam, serta di
Kawasan Laha, dekat Bandara. Ketiga Radio ini dikelola dua kelompok
pemuda yang berbeda dalam wadah koperasi. Semua peralatan radio dan
pengurusan surat-surat serta pelatihan atas biaya NZAid.
Di dalam konflik Kristen-Islam di Maluku yang mengorbankan nyawa lebih
10 ribu orang selama 5 tahun ini, saya menyimpulkan bahwa sebab
utamanya adalah adanya ‘’provokator’’ dari pihak luar. Hal ini
mengingat antara Muslim dan Kristen adalah ‘’bersaudara’’, berdasarkan
hubungan ‘’Pela Gandong’’. Ada diantara mereka, walau berbeda Agama,
tetapi bersaudara, ada kakak ada adik. Bahkan, walau satu kampung
beragama Kristen dan satu lagi mayoritas Bergama Islam, mereka masih
memiliki hubungan kerabat, sehingga mereka berabad-abad sebelumnya
bisa hidup rukun dan damai.
Bayangkan saja, selama konflik, militer dan polisi pun takut satu
kantor. Perwakilan Antara dan TVRI pun tebelah dua. Satu kantor untuk
Kristen, dan di tempat lain untuk Islam. Tidak heran, ada wartawan
TVRI harus menyerahkan film rekaman ‘’hanya’’ sampai di perbatasan.
Konon, polisi yang Kristen berkantor di Polda, dan yang Islam di
Polres. Begitu juga kesatuan lain.
Memang keberhasilan sang ‘’provokator’’ itu ditunjang latar belakang
kecemburuan social yang sudah ada di Maluku. Di kota Ambon misalnya,
banyak penduduk pendatang, yang utamanya suku Bugis dan Jawa yang
sukses berbisnis di kota Ambon. Bahkan, tukang becak, tukang bakso dan
sector lain banyak di dominasi pendatang. Penduduk Asli yang
sebelumnya hanya berminat ‘’menjadi pegawai negeri’’, karena lapangan
pekerjaan pegawai negeri ini terbatas, akhirnya banyak menjadi
pengangguran.
Kini, mereka sudah sadar. Mereka tidak lagi mau di ‘’provokasi’’ dari
luar yang menghancurkan sendi kehidupan mereka. Banyak orang asli
Maluku, kota Ambon khususnya, bersedia bekerja di sector mana saja,
termasuk jadi tukang becak. Bila ada orang Kristen dan Islam
bersenggolan di pasar atau di tempat mana saja, mereka buru-buru minta
maaf, karena sadar, mereka tidak ingin ‘’diprovokasi ‘’ lagi. Tetapi,
saying, justru konflik antar kampung sesama agama, masih terjadi di
Maluku, seperti halnya terjadi di Papua. Memang, konflik ini dilator
belakangi latar belakang kondisi pendidikan dan ekonomi mereka yang
masih rendah, sehingga walau mereka mampu ‘’mengatasi’’ serbuan
‘’provokator’’ sehingga bisa terjadi benturan ‘’antar agama’’, malah
kerawanan lain masih terjadi, konflik antar kampung dan antar suku,
seperti terjadi di kawasan lain di Indonesia Timur yang mayoritas
pendudukanya masih hidup di bawah garis kemiskinan, miskin pendidikan
dan bahkan banyak diantara mereka buta hurup. Inilah tugas kita semua
untuk mengatasinya.
Di dalam sejarah, sejak Indonesia merdeka, baru kali inilah konflik
yang berlatar belakang Agama begitu banyak ‘’menelan korban jiwa’’.
Semoga tidak akan terulang lagi.

• Wartawan Freelance dan Dosen Komunikasi (Jurnalistik) STIE Hidayatullah

January 31, 2010

from: Recently-Uploaded-Slideshows

Psp Go Download Center Download Psp Games ,Movies, Music, Themes And Software

Psp-Go-Download-Center...

Do you want to find a website in which you can download all your favorite PSP games, movies and music without having to break your bank? It is not that hard really. All it takes is a little time and patience to find the perfect site to start downloading from. If you really want some PSP games, then take the time to look at the Internet and its many websites that offer "free" programs.

January 31, 2010

from: Recently-Uploaded-Slideshows

Paracaidas

Paracaidas

Una historia para reflexionar: Charles Plumb pasó seis años en una prisión norvietnamita durante la guerra de Vietnam. A su regreso a Estados Unidos, daba conferencias relatando su odisea, y lo que aprendió en la prisión...

January 31, 2010

from: Recently-Uploaded-Slideshows

מצגת סיכום פרויקט הרזיה חלק א’ - רפואה סינית בקהילה

rsquo

סיכום חלק א’ מתוך פרויקט תלת שלבי של קליניקת "רפואה סינית בקהילה" - קליניקה לרפואה סינית מסורתית במתכונת קהילתית ובמחירים מוזלים.
"רפואה סינית בקהילה" יוזמת ומנהלת פרויקט לטיפול בהשמנת יתר באמצעות הרפואה הסינית המסורתית. הפרויקט במחיר מוזל ע"מ לאפשר תדירות טיפולים אינטנסיווית ואפקטיבית.

January 31, 2010

from: Recently-Uploaded-Slideshows

You might also like these

cool cool cool

cool

Collection made by Spectives Team

Spectives Team
basketball basketball basketball

basketball

Collection made by Spectives Team

Spectives Team
amsterdam amsterdam amsterdam

amsterdam

Collection made by james

james